Rabu, 17 Desember 2008

TETAPLAH BERLAYAR!

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengalahkan haluannya ke pantai seberang,
mengamuklah samudera dan badai menderu; gelombang zaman menghempas yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih: Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Dalam kidung ini gereja digambarkan sebagai bahtera. Bukan bahtera namanya jika hanya tertambat di pelabuhan. Hakikat bahtera adalah berlayar. Untuk itu, bahtera harus kuat dalam menghadapi gelombang samudera menuju pelabuhan tujuan.

Dua hal yang menarik, berlayar dan pelabuhan. Berlayar mengibaratkan suatu perjalanan. Pelabuhan mengandaikan suatu tempat tujuan. Berarti, suatu perjalanan harus mempunyai arah dan tujuan. Bahtera yang berlayar harus mengarahkan diri mencapai pelabuhan.

Begitu pula dengan gereja. Dalam menghadapi gelombang samudera, gereja harus mempunyai keberanian dan keseriusan melangkah. Gereja harus melakukan perubahan. Jika tidak, perubahan itu sendiri yang akan mengubah gereja.

Wahyu 3:14-22 mengisahkan jemaat besar di Laodikia. Jemaat yang tenang, mapan bahkan tidak ekstrem dan selalu mencari aman. Kegiatan perbankan dan keuangan terbesar ada di Laodikia. Mempunyai kerajinan pakaian wol dan sekolah kedokteran tersohor. Namun, tidak mau peduli terhadap masyarakat sekitar. Persoalannya, apakah jemaat Laodikia merupakan jemaat yang ideal? Kristus berkata akan memuntahkan Laodikia karena suam-suam kuku, tidak dingin tidak panas (ay. 16).

Kecaman Kristus terhadap Laodikia mengingatkan gereja Tuhan masa kini. Seringkali gereja cenderung eksklusif dalam arti tidak mau peduli terhadap masyarakat sekitar. Hanya sibuk berorientasi pada jemaat sendiri sehingga kegiatan keluar kurang diperhatikan. Gereja terlalu banyak rapat dan mencari aman sehingga menyedihkan jika kekurangan dana (defisit).

Apakah seperti itu yang terjadi di GKJ Jakarta? Ataukah sebaliknya, yang mengunggulkan sosialnya? Bahayanya adalah jika gereja menjadi Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Sehingga perlu adanya keseimbangan antara pelayanan bagi jemaat maupun masyarakat. Untuk mencapai keseimbangan perlu ada keseriusan.

Gereja memang harus berlayar menceburkan diri dengan keberanian, keseriusan dan kesederhanaan ke dalam setiap situasi. Gereja sebenarnya ada untuk menunaikan tugas kepada dunia. Tugasnya adalah memancarkan sinar di tempat gelap, menyampaikan ucapan pengharapan bagi yang putus asa, menghembuskan keberanian baru bagi yang patah semangat, sehingga gereja mewartakan keselamatan kepada semua orang.

Namun, langkah pertama adalah menjamah orang-orang yang berada di lingkungan gereja. Jemaat maupun masyarakat. Tanpa mereka, gereja tidak akan mempunyai sebuah keberadaan (eksistensi) untuk dapat hidup.

Tugas itu memberikan pengalaman hidup akan Allah yang hadir dan aktif dalam pelayanan kita. Akhirnya, selamat ulang tahun bahtera GKJ Jakarta ke-66. Tetaplah berlayar mengarungi samudera raya di tengah gelombang yang akan menghantarkan kepada suatu pelabuhan abadi!

Nugraheni Siwi Rumanti
Mahasiswi Theologia UKDW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar