Rabu, 17 Desember 2008

Diakhiri Namun Tak Berakhir

Dan tak seindah cinta yang lalu
Yang jalan dan jalin tanpa restu
Ku akhiri namun tak berakhir
Ku hindari hati tak ingin berpisah


Inilah sebuah lagu yang mengisahkan tentang seseorang ketika mengalami cinta tanpa merasakan cinta saat itu. Hingga dia teringat dan seakan membandingkan perasaan cinta yang pernah dialaminya. Satu hal yang menarik adalah kalimat selanjutnya, ”Ku akhiri namun tak berakhir... Kuhindari hati tak ingin berpisah”. Dapat dikatakan bahwa lagu tersebut mengungkapkan perasaan seseorang dengan orang yang sangat dia cintai namun tidak memperoleh restu. Lalu, mereka mengakhiri ”hubungan cinta” mereka tetapi tidak mengakhiri ”perasaan cinta” mereka.

Tentu saja terkesan begitu ironi karena kata ”akhir” mempunyai dua makna (ambigu). Namun, jika kita melihat maksud lagu tersebut dari sisi lain dapat dikatakan bahwa yang berakhir hanyalah hubungan bukan perasaan.

Bagi orang Kristen, peristiwa kenaikkan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus telah meninggalkan dunia ini termasuk meninggalkan para muridNya. Tetapi bukan berarti Yesus hanya tinggal diam dan tidak akan pernah menyertai murid-muridNya lagi. Yesus tetap ada dan selalu ada. Hingga akhirnya, Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk senantiasa membimbing para muridNya. Dari sini terlihat bahwa cinta Yesus tidak meninggalkan mereka meskipun Yesus tidak bersama dengan mereka. Yesus nampaknya telah mengakhiri hubungan dengan para muridNya yang dulunya selalu dekat, namun tidak mengakhiri perasaanNya yang selalu ada bersama dengan mereka.

Dalam Kristen pula dikenal adanya istilah emeritus bagi pendeta yang dianggap telah mencapai usia tua. Banyak orang menganggap bahwa emeritus identik dengan pensiun. Ini berarti bahwa pendeta emeritus sudah tidak dapat menjadi pendeta lagi. Identik pula berakhir menjadi pendeta.

Sebenarnya, tidak ada yang berakhir di dunia ini. Ibaratnya seperti berlari pada stadion yang luas dan berdiameter lebar. Pasti kita tidak akan mampu mengakhiri langkah kita untuk mengitari stadion itu, meskipun kita menganggap telah mengakhirinya.

Sama halnya dengan kependetaan. Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir meskipun ada saatnya kependetaan itu harus berjumpa dengan emeritasi. Emeritasi berarti suatu masa emeritus. Emeritus berasal dari kata exmeritus (bahasa Latin) yang berarti pergi ke luar dengan terhormat. Suatu penghargaan yang diberikan karena masa kerjanya telah berakhir dengan baik namun sebenarnya masih mampu untuk tetap bekerja.

Secara struktural, pendeta dapat dikatakan berakhir dari kependetaannya. Namun, secara fungsional, pendeta emeritus tetap sebagai pendeta yang masih dapat melayani. Sehingga emeritasi bukanlah suatu masa yang terakhir bagi pendeta emeritus. Justru pendeta tersebut telah mendapatkan suatu penghargaan secara terhormat. Tentu saja pendeta perlu mengalami masa emeritasi. Bahkan pendeta sangat perlu memperoleh penghargaan dengan terhormat atas segala pelayanannya selama menjadi pendeta secara struktural.

Sangat perlu bagi kita untuk memahami makna emeritus pendeta. Pandangan bahwa pendeta tidak perlu mengalami emeritus bukanlah suatu pandangan yang tepat. Ada asumsi bahwa pendeta hanya ingin mempertahankan kekuasaan sehingga terkesan mendominasi jemaat tertentu.

Untuk itu, perlu bagi kita mengubah pandangan kita terhadap istilah emeritus. Bukan pensiun. Bukan suatu yang salah. Bukan pula ketidakhormatan. Seperti ungkapan lagu di atas, mengalami cinta namun tak merasakan cinta. Mengalami emiritus namun tak merasakan emiritus. Diakhiri namun tak berakhir.

Jakarta, 10 Juni 2008
_NugSiRu_

Aku perlu menyadari

Aku menyadari bahwa awalnya aku sangat tidak suka menulis. Ya, terkadang hanya suka menulis diary saja. Namun, setelah aku mengikuti pelatihan penulisan di Salatiga di bawah bimbingan Pak Yoel Muwun Indrasmoro pada tanggal 2-4 Juni 2008. Ditambah lagi dengan bimbingan khusus beliau selama prastage di GKJ Jakarta. Aku menjadi sangat tertarik dan rindu untuk menulis, menulis dan menulis. Tetapi aku juga perlu melengkapi diriku dengan membaca banyak buku sebagai referensi dari tulisanku. Tentunya aku juga perlu mendengarkan banyak hal yang penting dan berguna bagiku.

Aku bersyukur kepada Allah yang telah menolong membukakan banyak jalan bagi kehidupanku. Aku tidak hanya mampu bermain musik, teater, bercerita namun juga dalam hal menulis.

Aku tidak tahu Tuhan akan menjadikan aku seperti apa, namun aku ingin menjadi kebanggaanNya dan kebanggaan banyak orang. Mungkin menjadi pemusik, pemain piano, pelatih musik, artis, guru, penulis, pendeta ataukah pendamping pendeta. Aku tidak mengetahuinya. Namun, aku akan menjalani setiap proses yang ada.

Terima kasih Tuhan untuk setiap hal yang boleh ada padaku sampai saat ini. Aku hanya berharap dapat aku tumbuh kembangkan sebagai wujud syukurku kepadaMu.
Terima kasih untuk segala sarana yang telah ada bersamaku. Pak Pdt. Yoel yang baik hati dan senantiasa membimbingku. Orang tua dan keluargaku yang selalu mencukupi kebutuhanku dan mendoakanku. Terlebih lagi kekasihku, Andreas Kristianto yang senantiasa setia mendukung, menyemangati dan memberikan inspirasi bagiku.
Terima kasih untuk segalanya.

Bagiku, hidup adalah berkarya. Ya, berkarya bagi kemuliaanNya. Dia yang telah memberi, Dia yang telah menyertai dan akhirnya nanti Dialah yang mengambil. Segala kemulian hanya bagi Tuhan.

Inilah aku dengan segala yang ada padaku. Seringkali aku kurang menyadari dan bersyukur atas setiap hal yang aku miliki. Memang, aku perlu menyadari.

Jakarta, 9 Juni 2008
_NugSiRu_

Menjadi Terdepan

Sebuah Bukti Mengikuti-Nya
Bacaan : Yohanes 20:1-18; Markus 16:9
Pernahkah ibu-ibu mendengar atau bahkan melihat seorang pelacur?
Mengapa pelacur itu mau melacurkan dirinya?
Bagaimanakah pandangan ibu-ibu terhadap pelacur tersebut? (Sharingkan pengalaman ibu-ibu!)

Kisah Maria Magdalena
Belajar dari seorang wanita yang bernama Maria Magdalena. Dalam film ”The Bible: Close to Jesus, Mary Magdalena”, dia digambarkan sebagai wanita yang telah diceraikan oleh suaminya dan diusir dari rumahnya di tanah Magdala. Maria menyimpan dendam untuk membalas perlakuan suaminya.

Dia menjadi seorang pelacur bagi laki-laki yang dianggapnya akan dapat membantunya melakukan pembalasan. Namun, laki-laki itu telah menodainya dan pergi meninggalkannya. Bahkan, menyerahkannya kepada prajurit untuk bersama-sama merampas kehormatan Maria. Hidupnya kian lama kian hancur. Ia pernah mencoba untuk bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ke danau. Namun, untunglah ditolong oleh Yesus dan murid-muridNya yang sedang menjala ikan.

Sebenarnya beberapa kali, Yohanes Pembaptis telah memberitahukan kepadanya agar dia bertobat dan mengampuni. Namun, tetap saja dia kurang percaya. Bahkan menganggap semua laki-laki adalah jahat. Dapat dikatakan, dia trauma dengan laki-laki. Hingga suatu ketika Maria menyadari bahwa Yesus berbeda dengan laki-laki lainnya. Yesus terlihat sangat mengasihinya. Dosa-dosanya telah diampuni. Kemudian, Maria mengikuti Yesus dengan cara hidup yang baru. Bahkan Maria berjalan di garis paling depan. Kini terlihat, Maria begitu mengasihi Yesus dengan amat sangat.

Bukti bahwa Maria sangat mengasihi Yesus terlihat dalam injil Yohanes 20:1-18. Nampaknya penulis injil hanya menerangkan beberapa hal mengenai Maria Magdalena.

Ayat 1, ”...pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu...” menandakan bahwa dia terlihat mengutamakan Yesus. Untuk apa dia pergi pada pagi-pagi benar, kalau tidak karena dia mengasihiNya. Terbukti, dialah orang pertama tiba di makam.

Namun, ayat 2, menyatakan bahwa Maria terkesan kurang percaya akan kebangkitan Yesus. Pantas saja karena pada ayat 9 tertulis, ”Sebab selama itu mereka belum mengerti isi kitab suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati”. Dan pada ayat 11,”Maria berdiri dekat kubur dan menangis...”. Terkesan kembali bahwa Maria kurang percaya. Hingga pada ayat 12, datanglah dua malaikat. Tugas mereka adalah untuk menantang Maria ketika dia menangis. Mereka tidak mengutarakan kata-kata penghiburan dan pemberian semangat. Dalam pikiran Maria yang mengambil tubuh Yesus satu-satunya adalah penunggu taman. Ayat 15, ketika Yesus mengajukan pertanyaan sama seperti para malaikat, Maria menganggap bahwa orang itu penunggu taman. Lalu, ayat 16, Yesus memanggilnya Maria. Seketika itu, Maria mengenal suara Yesus dan memanggilNya :”Rabuni” artinya guru. Dalam hal ini terdapat tekanan pada hubungan pribadi (bandingkan dengan ”Tuhanku” ayat 13).

Ketidakpercayaan itu tidak berlangsung lama dan terlebih tidak mengubah kasih Maria Magdalena kepada Yesus. Pada ayat 17, nyatanya Maria ingin merangkul Yesus tetapi Yesus tidak mengizinkannya. Selanjutnya Maria justru diperintahkan untuk memberitahukan kepada saudara-saudara lainnya. Ayat 18 pun menyatakan bahwa Maria melakukan perintahNya karena kasihnya yang amat besar kepada Yesus. Bahkan Yesus menunjukkan diri-Nya pertama kali pada Maria Magdalena (Markus 16:9). Maria sangat mengasihi Yesus karena Yesus terlebih dulu mengasihinya. Inilah sebuah bukti mengikuti-Nya.

Bagaimanakah seandainya kita menjadi Maria Magdalena?
Nugraheni Siwi Rumanti

Panggilan Pelayanan Sejati

Terpanggilkah untuk menjadi PelayanNya?

Sebagian besar orang Kristen menganggap pendeta sebagai pemimpin gereja, pemimpin rohani dan pembangun spiritualitas umat Kristen. Tentunya bukan guru saja yang patut digugu lan ditiru tetapi pendeta pun patut mendapat predikat itu. Pendeta sebagai pemimpin gereja harus mampu memimpin gereja dengan bijaksana bukan mendominasi maupun bersikap otoriter. Sebagai pemimpin rohani sekaligus pembangun spiritualitas umat Kristen, perlu meningkatkan bobot dan kualitas iman umat. Bagaimana jika pendeta sendiri tidak berkualitas imannya? Tentu saja pendeta perlu meningkatkan keimanannya untuk dapat mengangkat kualitas keimanan orang lain.

Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan merasa diselamatkan dari kehidupannya. Mereka menganggap diri merasa terpanggil untuk berubah. Terpanggil untuk melayani Tuhan. Ada harapan untuk berbalik pada Tuhan dan membalas kebaikanNya selagi masih hidup. Bahkan, ada yang memakai seluruh waktunya untuk berdoa dan melayani Tuhan. Hal-hal duniawi selalu dihindarinya.

Muncul ungkapan, ”Hebat benar orang itu!” Mampukah dia bertahan hingga akhir? Padahal, tidak dipungkiri bahwa kemampuan manusia sangat terbatas. Manusia tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri pun pernah marah, menangis, dan sedih. Namun, satu hal yang pasti bahwa iman kita kepada Allah yang memampukan kita untuk tetap bertahan hingga ke akhir.

Sebagai seorang Kristen, tentu saja pernah merasakan dan menikmati berkat dan penyertaanNya. Bahkan tidak akan pernah berakhir dalam kehidupan kita. Lalu, terpanggilkah kita untuk melayani Dia lebih lagi?

Sebagai seorang mahasiswa teologi maupun orang-orang lain yang bukan teologi, terpanggilkah kita untuk menjadi saksi bagi Dia? Menjadi seorang pendeta, penginjil, diaken? Meski dunia banyak menolak kita. Orang-orang terdekat kita pun meragukan kita. Bahkan menganggap diri kurang beriman. Apalagi layak untuk melayani Tuhan...

Dalam film ”Raise Your Voice”, seorang Fletcher yang diperankan oleh Hillary Duff, mampu berjuang untuk dapat meraih cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Meski banyak orang termasuk keluarganya sendiri meragukan kemampuan dan tidak mendukungnya. Banyak peristiwa yang dilaluinya. Ketakutan, kekhawatiran bahkan kehilangan kakak yang sangat dicintainya padahal hanya kakaknya yang mendukung dia. Namun, dia tetap berjuang dan berkarya mengembangkan dirinya. Harapannya pun tercapai.

Film itu mempunyai pesan moral yang baik dan mustinya dapat menumbuhkan semangat pelayanan dalam kehidupan kita. Kita perlu melihat gereja-gereja masa kini yang sangat membutuhkan pelayanan kita. Bukan hanya itu melainkan pelayanan kita untuk menjadi pemimpin rohani mereka. Banyak gereja membutuhkan uluran tangan kita untuk menjadi sarana berkat dan pertolongan dari Tuhan. Banyak gereja kehilangan semangat pelayanan bahkan jati dirinya karena tidak mempunyai pendeta. Banyak umat yang tersesat. Bukan hanya GKJ tetapi juga GKI, GPIB, GBKP, GKPB, GKSBS, HKBP, GKS, dll. Masihkah kita berlari untuk menghindari panggilanNya?

Lebih tepatnya, terpanggilkah kita untuk melayaniNya dimana pun kita berada? Lebih jelasnya, terpanggilkah kita untuk menjadi pendeta? Menjawab dengan mulut memang mudah apalagi jika hanya ingin menyenangkan banyak orang. Namun menjawab dengan hati, sulit. Hati membutuhkan ketulusan dan kejujuran untuk menyatakannya.

Rasul Paulus pernah menulisnya dalam 2 Timotius 4:2, ”Beritakan firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”.
Jadi, bagaimanakah dengan kita? Jawablah dengan hati. Laksanakan dengan jiwa. Be the best for God!

Jakarta, 10 Juni 2008
Persembahan khusus untuk
HUT kekasihku tercinta,
Andreas Kristianto ke-20
_NugSiRu_

Dinamika Makna Kasihku

Kasih... apa makna yang tepat untuk diungkapkan? Setiap orang pasti berbeda-beda dalam mendefinisikan kasih. Barangkali, mereka mendefinisikan kasih sesuai dengan apa yang sedang mereka rasakan atau apa yang pernah mereka alami. Ini berarti, ada orang yang mendefinisikan kasih ketika dia sedang jatuh cinta sehingga makna kasih terkesan positif. Tentu hal-hal yang baik-baik saja yang dia nyatakan. Ada juga orang yang mendefinisikan kasih ketika dia sedang putus hubungan dengan pasangannya sehingga makna kasih bersifat negatif dan terkesan sangat buruk.
Di sisi lain, barangkali ada orang yang tidak merasakan apapun, namun ia ingin mendefinisikan kasih. Atau bahkan hanya sekedar terpaksa mendefinisikan kasih, sehingga terkesan biasanya saja. Dalam arti, tidak ada sesuatu yang baru dari makna kasih itu.
Dulu, ketika saya masih kecil, kira-kira usia 8 tahun, kasih itu seperti ayah yang selalu menggendong saya dan ibu yang selalu memberi saya susu. Dalam arti, kasih itu memberi dan menerima. Meskipun pada saat itu saya sekedar menerima kasih.
Ketika saya berusia 10 tahun, kasih itu seperti sebuah piano yang begitu harmoni ketika dimainkan.. Dapat dikatakan bahwa kasih itu cinta yang indah. Saat itulah pertama kalinya saya merasakan getaran dalam hati saya sehingga saya merasa dunia telah membuka mata hati saya untuk sebuah harmoni cinta.
Ketika saya berusia 13 tahun, kasih adalah ketika saya merasa diterima dan menerima hal baru dalam hidup saya. Saat itulah pertama kalinya saya mengakui keberadaan saya.
Ketika saya berusia 15 tahun, kasih adalah ketika saya kehilangan (dalam arti berpisah) dengan orang-orang yang saya kasihi. Ini berarti kasih identik dengan mendidik saya belajar untuk mandiri.
Ketika saya berusia 17 tahun, kasih adalah ketika saya disebut sebagai orang yang dewasa. Saat itulah pertama kalinya saya mengikrarkan iman percayaku. Saya menganggap diri sebagai orang yang paling berbahagia. Wujud kasih yang saya terima adalah berupa kado dan semangat dari banyak orang yang mengasihiku.
Setelah itu saya selalu mencoba untuk memaknai kasih dalam hidup saya.
Ketika saya berusia 18 tahun, kasih adalah ketika saya diselamatkan dari kesalahanku. Saat itulah saya menyadari bahwa langkah yang saya tempuh telah menyimpang. Saya pun memberanikan diri untuk melanjutkan langkah meski saya belum tahu arah yang akan dituju. Ini berarti kasih itu menyelamatkan dan memantapkan.
Ketika saya berusia 19 tahun, kasih adalah ketika bunga yang tengah bermekaran indah seketika menjadi kuncup kembali. Saya kehilangan orang yang sangat saya cintai untuk kedua kalinya.
Saat ini, ketika saya berusia 20 tahun, awalnya saya bingung mendefinisikan kasih. Barangkali karena apa yang saya rasakan dan alami sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Saya merasa bahwa saya telah menemukan hal yang sangat baru dan saya menikmatinya. Namun, di balik itu semua, tidak sedikit orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Bahkan, orang-orang terdekatku tidak turut menikmatinya. Meski demikian, akhirnya, saya dapat mendefinisikan kasih. Bagi saya, kasih adalah ketika saya tersenyum dalam tangisan. Ketika saya tertawa dalam kepedihan. Ketika saya berani dalam ketakutan. Ketika saya terhibur dalam kesepian. Ketika saya tegar dalam kesedihan. Ketika saya bahagia dalam ketiadaan. Ketika saya tenang dalam pelukan. Ketika saya lega dalam senyuman. Ketika saya nyaman dalam kepedulian. Ketika saya aman dalam kesendirian. Ketika saya terampuni dalam kesalahan.
Tentu saja, ini bukan akhir dari makna kasih. Masih ada banyak makna kasih yang belum saya ungkapkan. Yang pasti, kasih akan selalu mengajak saya untuk mendefinisikannya seperti apa yang sedang saya rasakan dan jalani. Inilah rangkaian dinamika makna kasihku yang belum selesai.
Jakarta, 18 Juni 2008
Nugraheni Siwi Rumanti

Listen and Do It !

Sebuah Refleksi Iman

Ada seorang pemain biola bernama Verius. Sejak kecil ia dapat memainkan biola. Keahliannya didapatkan dari ayahnya yang juga seorang pemain biola. Setelah ia dewasa, ia selalu memainkan biolanya di berbagai tempat. Bahkan ia pernah mengadakan beberapa kali konser untuk menunjukkan keahliannya. Hingga ia pun dikagumi oleh banyak orang. Verius kecil itu sudah menjadi besar dan terkenal.

Suatu ketika, setelah ia selesai melakukan konser kecilnya, ia pulang dengan mobilnya seperti yang biasa ia lakukan sehari-hari. Tiba-tiba, di tengah jalan dan suasana malam yang dialiri keramaian hujan kota, tak terasa Verius mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Hingga di depannya ada tikungan, namun dia tidak dapat mengendalikan mobilnya yang melaju dengan begitu cepatnya. Tidak ada waktu panjang lagi, pohon besar yang ada di jalan bertikung itu ditabraknya. Dia pun menjadi tak sadarkan diri. Ya, kecelakaan telah menimpanya.

Ketika ia membuka mata, ia hanya merasakan kegelapan yang menyelimuti keadaannya. Ada banyak suara yang memanggil namanya, “Verius… Verius… Verius…”, namun ia tidak dapat melihat rupa suara yang berseru itu. Dengan hati yang haru, Verius menyadari bahwa ia telah menjadi buta.

Peristiwa itu membuat dia putus asa dan tak ada lagi harapan untuk hidup. Ia hanya berseru dalam hatinya,”Bagaimana aku bisa bermain biola lagi bila aku tak dapat melihat? Pikiranku tak dapat menampung banyak hal!”. Bukan hanya dia saja yang kecewa, namun juga para pengagumnya. Awalnya mereka merasakan apa yang Verius rasakan. Sakit, kecewa, sedih. Tetapi, selanjutnya mereka pergi bagaikan angin yang tak tahu ke mana. Tiada lagi perhatian dan penghiburan bagi Verius.

Satu tahun lamanya Verius hanya terdiam dalam lamunannya. Ia merasa tak berguna lagi. Semangat hidupnya telah lenyap diusap musibah itu. Bahkan ia tak mau lagi mengenal biolanya.

Suatu hari, ia mendapat kiriman CD dari seorang teman pemain biola. Ia membuka CD itu dan ia dengarkan. Ternyata isinya adalah lantunan lagu-lagu yang diiringi dengan biola. Ia merasa mengenal lagu-lagu itu. Bahkan hampir semua lagu itu pernah ia mainkan dalam konsernya. Perasaannya begitu senang. Hatinya tersenyum. Ia merasa bersemangat kembali untuk menyentuh biolanya. Ia mencoba untuk mendengarkan permainan biola dalam CD itu. Pelan-pelan ia memainkannya dengan biolanya. Awalnya, sangat sulit namun lama-kelamaan ia dapat mengikutinya. Ia pun berhasil memainkannya sesuai dengan CD itu. Lalu, tetangga terdekatnya mendengar alunan biola Verius. Banyak orang yang penasaran ingin melihat siapa orang yang memainkan biola Verius yang telah lama terdiam itu? Dan mereka pun terkejut ternyata Verius sendiri yang memainkannya. Mereka sangat kagum bahkan kekagumannya melebihi dahulu. Bagaimana seorang buta bisa memainkan biola dengan begitu indahnya?

Setelah Verius selesai memainkan sebuah lagu, orang-orang yang sedang melihatnya langsung spontan bertepuk tangan sebagai tanda kekaguman mereka untuk Verius. Verius pun terkejut dan merasa sangat bahagia ketika mendengar tepukan tangan mereka. Semangat Verius untuk bermain biola muncul kembali. Modalnya mudah. Ia hanya belajar untuk mendengarkan bukan hanya dengan telinganya namun juga dengan hatinya. Lalu, ia melakukan apa yang ia dengar. Akhirnya, Verius kembali dikagumi banyak orang dan ia mendapatkan kebahagiaannya kembali.
Dua hal yang menarik adalah mandengar dan melakukan. Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, tentunya tak ada jalan lain kecuali mendengar. Mendengar dengan telinga kita dan menghayatinya dengan hati kita. Kemudian, kita melakukan apa yang telah kita dengar dan hayati itu.

Kejadian 7:1-9 mengungkapkan kisah Nuh sebelum ia mengalami musibah air bah. Terlebih dahulu Tuhan Allah menyuruh Nuh untuk “bersiap diri” dengan cara memerintahkan Nuh untuk masuk ke dalam bahtera yang telah ia buat (pasal 6:14) bersama dengan seisi rumahnya dan banyak pasang binatang yang diperintahkan Tuhan (pasal 7:1-4). Nuh mendengarkan apa yang diperintahkan Allah. Selanjutnya, Nuh melakukan perintah itu. Akhirnya ia selamat dari musibah air bah (Kej. 8:18-19).

Kisah Nuh tersebut menyatakan kebenaran iman yang dia miliki. Karena iman, Nuh dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan, dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya (Ibrani 11:7). Tuhan Allah telah menyelamatkannya melalui iman yang dia miliki.

Rasul Paulusmengungkapkan kesaksian iman dalam Roma 10:17, ”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Tuhan Allah telah menyatakan firmanNya kepada Nuh dan Nuh mendengarkannya. Dalam perjanjian baru, Yakobus berseru,”Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Oleh karena itu, Nuh melakukannya, sehingga ia mendapatkan keselamatan yang kekal dari Allah.

Dari sini terlihat hasil akhir dari dua hal itu (mendengarkan dan melakukan) adalah keselamatan, kebahagiaan dan bahkan kekekalan. Dapat dikatakan bahwa hal mendengar dan melakukan merupakan bukti dari iman kepada Allah.

Dalam Matius 7:24-27, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang mendengar perkataanNya dan melakukannya sama dengan orang yang bijaksana, sedangkan yang tidak adalah orang bodoh. Ibaratnya, orang bijaksana mendirikan rumah di atas batu. Ketika banjir dan angin melanda, rumah itu tidak rubuh. Sedangkan orang bodoh mendirikan rumah di atas pasir. Ketika banjir dan angin melanda, rumahnya rubuh dan rusak.

Ajaran Tuhan Yesus menunjukkan pula bahwa buah dari mendengarkan dan melakukan firmanNya adalah keselamatan. Terbukti dengan tetap berdiri teguh bangunan rumah itu. Jika kita berpikir, memang tidak cukup mudah mendirikan rumah di atas batu. Kita membutuhkan banyak sarana dan prasarana. Terlebih lagi perjuangan dan pengorbanan.

Begitu pula dengan iman. Tak mudah menyatakan iman itu. Kita membutuhkan perjuangan dan pengorbanan melalui kepercayaan dan kesetiaan kita kepada Allah. Kita perlu mendengar dan melakukan apa yang Allah kehendaki bagi kehidupan kita. Mendengar itu cukup sulit. Apalagi melakukan? Memang kita tidak akan pernah dapat menghadapinya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu, izinkan Tuhan Allah sendiri untuk memampukan kita. Biarkanlah kita menjalaninya bersama dengan Tuhan Allah. Hingga akhirnya nanti, kita beroleh buah dari pekerjaan kita yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang kekal.

Bagaimana dengan kita saat ini? Pilihan ada di tangan kita masing-masing. Maukah kita menjadi orang bijaksana, ataukah orang bodoh? Bersediakah kita menyatakan iman dengan cara mendengar dan melakukan setiap firman Allah? Jika ya, sekali lagi, Listen and Do It !

Jakarta, 12 Juni 2008
_NugSiRu_

TETAPLAH BERLAYAR!

Gereja bagai bahtera di laut yang seram, mengalahkan haluannya ke pantai seberang,
mengamuklah samudera dan badai menderu; gelombang zaman menghempas yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih: Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Dalam kidung ini gereja digambarkan sebagai bahtera. Bukan bahtera namanya jika hanya tertambat di pelabuhan. Hakikat bahtera adalah berlayar. Untuk itu, bahtera harus kuat dalam menghadapi gelombang samudera menuju pelabuhan tujuan.

Dua hal yang menarik, berlayar dan pelabuhan. Berlayar mengibaratkan suatu perjalanan. Pelabuhan mengandaikan suatu tempat tujuan. Berarti, suatu perjalanan harus mempunyai arah dan tujuan. Bahtera yang berlayar harus mengarahkan diri mencapai pelabuhan.

Begitu pula dengan gereja. Dalam menghadapi gelombang samudera, gereja harus mempunyai keberanian dan keseriusan melangkah. Gereja harus melakukan perubahan. Jika tidak, perubahan itu sendiri yang akan mengubah gereja.

Wahyu 3:14-22 mengisahkan jemaat besar di Laodikia. Jemaat yang tenang, mapan bahkan tidak ekstrem dan selalu mencari aman. Kegiatan perbankan dan keuangan terbesar ada di Laodikia. Mempunyai kerajinan pakaian wol dan sekolah kedokteran tersohor. Namun, tidak mau peduli terhadap masyarakat sekitar. Persoalannya, apakah jemaat Laodikia merupakan jemaat yang ideal? Kristus berkata akan memuntahkan Laodikia karena suam-suam kuku, tidak dingin tidak panas (ay. 16).

Kecaman Kristus terhadap Laodikia mengingatkan gereja Tuhan masa kini. Seringkali gereja cenderung eksklusif dalam arti tidak mau peduli terhadap masyarakat sekitar. Hanya sibuk berorientasi pada jemaat sendiri sehingga kegiatan keluar kurang diperhatikan. Gereja terlalu banyak rapat dan mencari aman sehingga menyedihkan jika kekurangan dana (defisit).

Apakah seperti itu yang terjadi di GKJ Jakarta? Ataukah sebaliknya, yang mengunggulkan sosialnya? Bahayanya adalah jika gereja menjadi Lembaga Sosial Masyarakat (LSM). Sehingga perlu adanya keseimbangan antara pelayanan bagi jemaat maupun masyarakat. Untuk mencapai keseimbangan perlu ada keseriusan.

Gereja memang harus berlayar menceburkan diri dengan keberanian, keseriusan dan kesederhanaan ke dalam setiap situasi. Gereja sebenarnya ada untuk menunaikan tugas kepada dunia. Tugasnya adalah memancarkan sinar di tempat gelap, menyampaikan ucapan pengharapan bagi yang putus asa, menghembuskan keberanian baru bagi yang patah semangat, sehingga gereja mewartakan keselamatan kepada semua orang.

Namun, langkah pertama adalah menjamah orang-orang yang berada di lingkungan gereja. Jemaat maupun masyarakat. Tanpa mereka, gereja tidak akan mempunyai sebuah keberadaan (eksistensi) untuk dapat hidup.

Tugas itu memberikan pengalaman hidup akan Allah yang hadir dan aktif dalam pelayanan kita. Akhirnya, selamat ulang tahun bahtera GKJ Jakarta ke-66. Tetaplah berlayar mengarungi samudera raya di tengah gelombang yang akan menghantarkan kepada suatu pelabuhan abadi!

Nugraheni Siwi Rumanti
Mahasiswi Theologia UKDW

BERTEOLOGI DI TENGAH PLURALISME AGAMA

BERTEOLOGI DI TENGAH PLURALISME AGAMA
Sebuah tawaran pemikiran untuk umat Kristiani di Indonesia

I. PENDAHULUAN
Pluralisme agama bukanlah rangkaian kata yang asing lagi bagi kita. Pluralisme itu sudah lama terjadi, sedang terjadi dan selalu akan ada bersama-sama dengan kita selama kita hidup. Tentu saja, kita umat Kristiani, sebagai umat beragama yang berlandaskan azas pansila, perlulah hidup di tengah-tengah keberagaman yang plural di Indonesia ini. Adanya kebersamaan dalam kepelbagaian merupakan satu-satunya corak hidup yang tepat bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Lalu, bagaimanakah wujud nyata kita agar dapat berteologi di tengah pluralisme agama ini?
Ketika saya bersimpati terhadap upaya menjelaskan tentang pluralisme agama dan bagaimana berteologi di tengah-tengahnya, maka ada baiknya jika kita bersama-sama memulai dengan sikap “apapun yang disampaikan oleh siapapun, yang bukan TUHAN sendiri” senantiasa merupakan tawaran pemikiran yang dapat dipilih termasuk kelemahan dan kelebihannya sebagai pertimbangan-pertimbangan dalam mempraktekkan iman di tengah masyarakat yang heterogen di Indonesia. Kita tidak perlu terburu-buru untuk mengatakan betul/salah maupun setuju tidak setuju, karena hal ini hanya akan membuntukan kita pada aras kontroversi saja dengan sedikit manfaat. Oleh karena itu, sebuah karya tulis dari Pdt. Victor I. Tanya, M.Th., Ph.D., akan menolong kita untuk bersama-sama melihat pentingnya sebuah sikap mutlak yang perlu kita lestarikan dalam rangka berteologi di tengah pluralisme agama ini.
.
II. DESKRIPSI[1]
Sesuai dengan salah satu artikel dalam sebuah buku karya tulis Pdt. Victor I. Tanya, M.Th., Ph.D. yang berjudul ”Tiada Hidup Tanpa Agama”, beliau menuliskan tentang sebuah sikap mutlak yang perlu kita lestarikan demi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. Sikap mutlak tersebut adalah dialog antara umat beragama. Walaupun kita berbeda-beda, namun kita harus dapat hidup bersama-sama.
Jika kita mengamati lebih dalam, dapat kita katakan bahwa yang dimaksudkan dengan agama dalam konteks hidup berbangsa, bermasyarakat dan bernegara Indonesia, setidaknya harus memenuhi lima kriteria, yaitu : mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bersifat universal dalam arti bahwa ajaran dan penganutnya meliputi sedunia, diwahyukan, mempunyai nabi dan mempunyai kitab suci. Dan ternyata, kelima agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha) memenuhi kriteria tersebut. Pada sila pertama pancasila, yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa, memurnikan aspirasi kepelbagaian hidup beragama. Ini berarti, meskipun kita terdiri dari penganut agama yang berbeda-beda, namun kita semua adalah sama, bukan hanya sebagai satu bangsa, tetapi juga sama mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, menurut pengertian agama kita masing-masing.
Namun, perlulah kita memahami lebih dalam bahwa Pdt. Victor I. Tanya bukannya menyamaratakan semua agama, atau suatu pengakuan bahwa kita menyembah Tuhan yang sama. Yang dimaksud di sini adalah dalam masing-masing agama yang berbeda, mereka itu sama dalam mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Ini berati bahwa sebagai bangsa dalam hal keberagaman, maka kita bertekad untuk hidup dalam suatu kebersamaan yang mengakui kepelbagaian. Secara khusus, wujud kebersamaan kita adalah dalam suatu dialog antara umat beragama. Tentunya, kita perlu memperhatikan bagaimana makna dialog dalam Iman Kristiani sendiri dan pentingnya dialog antara umat beragama. Pdt. Victor I. Tanya menuliskan pemikirannya terhadap pernyataan tersebut.

II. 1. Dialog dalam Iman Kristiani
Secara eksplisit, kata dialog di dalam alkitab tidak digunakan. Secara nisbi, memang kata dialog merupakan istilah yang baru masuk dalam perbendaharaan istilah gerejawi. Sedangkan istilah yang lebih lama digunakan adalah kata misi (pengutusan) yang secara ekplisit dalam alkitab. Misalnya, orang berbicara tentang misio Dei dalam pengertian bahwa Allah mengutus anakNya, atau mengutus umatNya untuk menyatakan kehendakNya kepada dunia dan manusia. Sama seperti yang dimaksudkan dalam alkitab, maka misi tidaklah mengandung pengertian negatif.
Namun, dalam pelaksanaan di dalam sejarah, orang atau malah gereja sendiri telah mengartikan misi itu sebagai perbuatan sepihak tanpa adanya percakapan. Misi yang demikian telah berakibat bahwa tujuan utama iman Kristen itu ialah ”mengabarkan injil” dan memenangkan orang beragama lain menjadi orang Kristen. Matius 28:19-20, yang biasa disebut ”Amanat Agung”, sering digunakan untuk membenarkan usaha tersebut. Kita lupa bahwa alkitab tidak pernah dan memang tidak bermaksud untuk membuat ayat-ayat itu sebagai suatu ”amanat agung”. Kitalah yang membuat-buatnya sebagai amanat agung. Kita lupa bahwa ayat-ayat tersebut harus dihubungkan dengan seluruh pekerjaan Yesus yang memproklamasikan datangnya kerajaan Allah. Untuk itu perlulah ada pertobatan (conversi) yang artinya berbalik dan hidup dalam hubungan dengan Allah.
Sejatinya, tujuan utama misi adalah pertobatan secara terus-menerus yang harus dilakukan melalui percakapan bukan tindakan sepihak. Yesus pun bercakap-cakap dengan orang banyak karena memang dalam pandangan alkitab semua manusia adalah keluarga Allah, walaupun berbeda-beda agama, ras maupun suku. Inilah sebenarnya arti kata dialog. Dialog berarti percakapan yang bertujuan membagi-bagikan pengalaman antara dua atau beberapa pihak yang berbeda tetapi masih bersaudara. Oleh karena itu, tugas berdialog adalah hakiki bagi gereja dan orang-orang percaya, karena Allah sendiri berbuat demikian untuk menyatakan siapa Dia kepada manusia.

II. 2. Dialog Antara Umat Beragama
Dilihat dari segala segi maka kondisi obyektif bangsa Indonesia sudah menuntut kita mengadakan dialog antara sesama umat beragama. Tugas ini tidak dapat lagi diurung-urung, karena hidup dalam isolasi sama dengan kemunduran yang membawa bencana fanatisme dan konflik yang berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dialog bukan hanya berlangsung dalam hal praktis, melainkan juga harus terdapat keterbukaan dan kesediaan untuk mendengar ajaran dan kepercayaan orang lain. Sehingga, dialog bersifat holistik dan integral dalam kehidupan bersama sebagai anggota masyarakat.
Dari sini, tentunya akan muncul suatu keadaan saling mempengaruhi, namun bukankah hidup itu akan lebih kaya jika manusia diperhadapkan dengan berbagai pilihan dan alternatif. Selain itu, dalam dialog pun kita dapat lebih mengenal diri kita sendiri. Inilah yang dikehendaki Kristus bahwa justru hidup yang mengarah kepada sesama itulah, jalan pertobatan dan jalan kasih, yaitu jalan yang menjuruskan hidup kita kepada Allah.

III. EVALUASI
Pdt. Victor I. Tanya telah mengingatkan kita akan makna dan pentingnya dialog baik dalam iman Kristen maupun antara umat beragama. Sikap mutlak dan hakiki (dialog) yang perlu dilakukan oleh umat Kristiani tersebut memang bukanlah sekedar wacana saja. Mengapa perlu dialog? Sejatinya, agama hadir untuk damai dan cinta. Namun, dalam kenyataannya, agama justru dipakai untuk mengesahkan pertentangan, pertikaian dan peperangan. Ketika penyelewengan itu terjadi, maka para pemuka agama yang berhati jernih perlu duduk bersama menemukan kembali makna dan fungsi agama. Terlebih lagi, jika kita menganggap diri kita sebagai satu kesatuan dengan bangsa Indonesia maka, sejatinya, kita menyediakan diri untuk terlibat dalam dialog sebagai wujud partisipasi kita umat Kristiani dalam berteologi di tengah pluralisme agama.
Jika kita berkata “Pluralisme Agama” maka kita perlu mengetahui lingkup seperti apakah yang akan kita bicarakan? Pertama-tama, tentunya kita melihat pluralisme agama Kristen sendiri: bahwa pluralis (yang menerima pluralisme) menghargai perbedaan pemahaman di dalam dunia keKristenan sendiri. Jika secara sehat kita bisa berdialog, saling belajar dan menghargai pandangan yang berbeda, maka bukankah keKristenan yang bertumbuh sampai saat ini merupakan hasil buah pemikiran baru yang dinamai reformasi yang berbeda? Dari sinilah kita dapati bahwa pluralisme adalah semangat yang menghargai dan berusaha memahami arti dari suatu perbedaan agar kita tahu apa yang bisa kita lakukan di tengah perbedaan itu, walaupun sulit. Langkah selanjutnya, barulah efektif kita berbicara mengenai pluralisme agama dalam lingkup antara Kristen dengan Islam (atau agama lainnya).
Jika kita mau sidikit menengok, pluralitas dalam Islam juga merupakan pergumulan yang tidak sederhana. Kita patut berhati-hati memandang hal tersebut, sebagai contoh pandangan MUI tentang pluralisme tidaklah mewakili semua pandangan orang Muslim di Indonesia. Pluralisme yang menyebabkan tidak mudahnya penerapan hukuman cambuk, penerapan RUU Anti Pornografi & Pornoaksi dan sebagainya.

IV. RELEVANSI
Dalam kalangan ekumenis terdapat kesadaran bahwa berteologi bukan merupakan hak monopoli para teolog atau bukan pula merupakan hak khusus dari para pendeta maupun para uskup saja. Semua warga jemaat, semua umat Tuhan Allah haruslah terlibat dalam berteologi. Meskipun sebagian besar orang Kristen telah memahami warisan tradisional teologi gereja maupun ajaran-ajaran (dogma) gereja tanpa mengadakan refleksi secara serius. Namun, sekarang ini ada banyak orang Kristen, warga jemaat biasa (yang sering menyebut dirinya “awam”) telah memulai berteologi dengan rasa bebas memperhatikan dan mempertimbangkan kenyataan hidup sehari-hari, lebih dari pada ajaran-ajaran resmi gereja secara turun temurun. Misalnya saja, ada usaha beberapa seniman yang dengan lugas mengadakan penjelajahan iman melalui sapuan kuas mereka. Ada para penyair yang mengungkapkan pandangan teologis mereka melalui karya-karya mereka. Ada para musisi atau komponis yang mengungkapkan pergumulan/keyakinan iman mereka melalui musik dan lagu. Seluruh karya mereka itu mencuat dan menembus berbagai hambatan yang telah dicanangkan oleh berbagai tradisi dan sistem maupun kategori filsafat dalam berteologi.
Oleh karena itu, dalam berteologi atau melakukan kegiatan teologi itu tidak hanya menghasilkan rumusan-rumusan atau pernyataan teologis saja, tetapi juga menghasilkan tindakan teologis (theological actions). Untuk itu, kegiatan berteologi tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai iman kepada Tuhan Allah, karena berteologi tidak akan mungkin dilakukan tanpa kehadiran dan bimbingan Roh Kudus.[2] Sejatinya, adanya dialog haruslah menghasilkan suatu teologi yang baru, yang menumbuhkan iman, yang menjadikan iman itu hidup dan dinamis. Demikian pula dengan gereja yang harus selalu diperbaharui dan membaharui dirinya secara terus menerus dengan cara aktif berteologi, khususnya di tengah pluralisme agama di Indonesia ini. Jika tidak, maka perubahan itu sendiri yang akan mengubah gereja.

V. REFLEKSI TEOLOGIS
Dalam tradisi umat Kristiani, kita mengenal adanya salib. Sejenak kita lihat dan renungkan ke arah manakah salib yang selama ini menjadi simbol iman Kristiani? Salib selalu terdiri dari palang yang vertikal sebagai simbol perdamaian antara Allah dan manusia, dan palang yang horizontal sebagai simbol perdamaian antar manusia. Tentunya, keduanya sama-sama penting untuk dilakukan. Jangan pernah kita berpikir bahwa kita harus mengutamakan palang yang vertikal karena jauh lebih panjang dari pada palang horizontal. Bukan seperti itu. Dalam tradiri, model salib ada bermacam-macam, bahkan ada yang seperti tanda + (setiap sisinya sama panjang).[3] Dari sinilah, kita dapat merefleksikan lebih dalam bahwa perdamaian penting kita wujudnyatakan dalam perjalanan hidup kita di tengah keberagaman (pluralisme agama).
Salah satu jalan yang dapat diyakini untuk mewujudkan perdamaian adalah dialog.[4] Dialog dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kita hidup bersama dengan rukun tanpa membedakan agama dan etnis di lingkungan tempat tinggal kita, saling menolong antar tetangga dan saling bekerja sama. Setidaknya, dengan jalan inilah akan dapat memantapkan kita semua untuk mewujudnyatakan perdamaian di tengah pluralisme agama. Tidak akan ada perdamaian di dunia tanpa perdamaian antaragama dan tidak akan ada perdamaian antaragama tanpa dialog.[5]

VI. PENUTUP
Akhirnya, tulisan ini dituliskan hanya untuk menawarkan salah satu cara berpikir tentang pluralisme agama. Bukan berarti pemahaman pluralisme agama yang berbeda itu salah, melainkan merupakan sebuah alternatif pilihan. Sejatinya, ketika kita bersedia berusaha memelihara perbedaan, nantinya kita sendiri akan memperkaya gereja kita dalam menghadapi berbagai masalah yang problematik dan sarat perbedaan. Salah satu tawaran yang dapat kita lakukan adalah dialog sebagai wujud kita dalam berteologi di tengah pluralisme agama.




DAFTAR PUSTAKA

Tanya, Victor I. Pdt. Tiada Hidup Tanpa Agama : Bunga Rampai Peranan Agama dalam Berbagai
Dinamika Kehidupan. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1988.

Soelarso Sopater, Bambang Subandrijo dan J.H. Wirakotan. Peran serta Gereja dalam
Pembangunan Nasional. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1998

Artanto, Widi Pdt. Indahnya Pluralitas : sebuah renungan popular. Yogyakarta : Kairos Books,
2005
[1] Sesuai dengan pemikiran Pdt. Victor I. Tanya, M.Th., Ph.D, dalam bukunya yang berjudul “Tiada Hidup Tanpa Agama : Bunga Rampai Peranan Agama dalam Berbagai Dinamika Kehidupan”. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1988. hlm 46-49
[2] Disadur dari salah satu artikel Judowibowo Poerwowidagdo yang berjudul “Dialog Teks, Tradisi dan Kehidupan Umat : Suatu Pendekatan Metodologis dalam Berteologi” dalam buku “Peran serta Gereja dalam Pembangunan Nasional” oleh tim penyunting : Soelarso Sopater, Bambang Subandrijo dan J.H. Wirakotan. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1998. hlm. 34-58
[3] Disadur dari salah satu artikel Pdt. Widi Artanto (Pendeta Tugas Khusus Sinode GKI Jateng untuk LPPS GKJ dan GKI Jateng di Yogyakarta) yang berjudul “Dialog” dalam bukunya yang berjudul “Indahnya Pluralitas : sebuah renungan popular”. Yogyakarta : Kairos Books, 2005. hlm. 44-47
[4] Ibid
[5] Ibid

Sambutan Emiritasi Pendeta

SEBUAH SAMBUTAN

Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus,
Seorang pendeta senior GKJ pernah mengucapkan sebuah ungkapan tentang emiritasi pada suatu pertemuan di Salatiga awal bulan Juni yll. Beliau mengatakan bahwa “Pendeta itu tidak perlu pensiun atau emeritus. Pendeta ya akan tetap sebagai pendeta. Jadi, emeritus atau pensiun tidak berlaku bagi pendeta.”
Awalnya, saya tidak sependapat dengan beliau karena jika dilihat dari segi struktural gerejawi, maka perlulah pendeta mengalami masa emiritasi. Keterbatasan usia, raga dan daya pikir dapat mempengaruhi proses pelayanan pendeta itu. Di sisi lain, memang benar, secara fungsional teologis, pendeta tetaplah selalu sebagai pendeta. Entah masih hidup maupun sudah tiada.
Namun, ternyata ungkapan pendeta senior GKJ tersebut mau tidak mau harus saya setujui. Sebab, ternyata, ketiadaan emiritasi tersebut telah terjadi dalam diri bapak saya sendiri. Ya, bapak kami yang telah menghadap kepada Bapa di sorga tepatnya 3 bulan yll. Bapak kami kembali pulang masih dengan sebutan sebagai pendeta, belum pendeta emeritus. Bahkan, calon kakak ipar saya mempertegas sambil menghibur saya, “Meskipun bapak telah dipanggil tapi bapak tetap sebagai pendeta kok. Bahkan, pendeta abadi. Nggak bakalan disebut pendeta emeritus.” Yah, harap saya, semoga demikian. Meskipun hari ini SK Emiritasi telah diberikan kepada kami, namun, bapak saya tidak mengalaminya. Betapa enaknya bapak saya terpanggil dalam keadaaan masih sebagai pendeta.
Secara pribadi, saya sebagai seorang anak pendeta cukup merasakan bagaimana perjuangan bapak saya ketika akan menjadi pendeta sampai bapak saya menjadi pendeta. Semasa bapak saya masih hidup, kami sangat sering berdialog. Ternyata, simbah saya (orang tua dari bapak), tidak menyetujui bapak saya menjadi seorang Kristen. Namun, karena begitu besar kasih Allah kepada bapak saya, akhirnya bapak saya menjadi seorang Kristen bahkan berani mengabdikan hidupnya kepada Tuhan sebagai seorang pendeta. Saya benar-benar sangat bisa merasakan ketika bapak saya menimba ilmu di STT Duta Wacana yang sekarang UKDW. Betapa membutuhkan kerja dan semangat yang begitu besar. Apalagi dulunya bapak saya mengambil D3 baru kemudian S1 teologi, sehingga gelar yang bapak peroleh adalah Sarjana Theologia (S.Th). Hanya untuk mencapai gelar tersebut, bapak saya berjuang selama 4 tahun lamanya. Dari pengalaman itulah, maka secara pribadi, saya dapat mengakui bahwa bapak saya tetaplah sebagai pendeta dengan sebutan yang sering kita dengar semasa bapak saya masih hidup, yaitu Pendeta Christian Nuryadi, S.Th.
Sebagai bagian dari sebuah keluarga pendeta, secara pribadi saya merasakan adanya suatu beban historis. Bagaimana tidak? Ibaratnya, keluarga pendeta itu seperti “ikan dalam akuarium”. Begitu banyak orang yang bisa melihat berapa jumlah ikan yang ada di dalamnya, apa yang dilakukan ikan itu bahkan ketika ikan itu mati, semua orang mengetahuinya. Ya, begitu pula dengan keluarga pendeta. Bagaimana pun, jemaat pasti akan melihat bagaimana to kondisi pendeta saya?. Itulah sebenarnya esensi di balik kepedulian jemaat pada umumnya.
Jujur, kami sekeluarga merasakan ketidaksiapan ketika Tuhan memanggil bapak kami. Peristiwa itu memang baru kami alami pertama kali dalam keluarga kami. Ketika kami harus kehilangan seorang suami, seorang bapak, seorang kepala rumah tangga dan seorang motivator bagi kami sekeluarga. Barangkali, jika Tuhan sebelumnya memberitahukan pada kami, pastinya kami akan mempersiapkan diri. Tetapi, peristiwa tersebut terjadi begitu cepat dan tiada terduga. Saya menjadi teringat ketika bapak saya kerap kali memimpin ibadah pemakaman, beliau selalu mengucapkan, “Punika boten dipun nyana-nyana. Amargi punika kersanipun Gusti piyambak. Gusti ingkang nitahaken, Gusti ingkang mberkahi lan Gusti piyambak ingkang mundhut”. Namun untungnya, bapak sudah terlebih dahulu mempersiapkan dirinya menghadap Tuhan. Hal itu nampak ketika saya dan mbak Endah mendampingi bapak di rumah sakit 3 hari sebelum bapak dipanggil Bapa di sorga.
Sebagai bagian dari keluarga pendeta, jujur saya merasa bingung harus berbuat apa ketika pemakaman dilaksanakan. Jika saya menangis, barangkali ada orang yang berasumsi, “Orang kok tidak kuat!”. Tetapi lucunya, ketika saya tidak menangis, orang justru menganggap saya aneh, “Bapaknya nggak ada kok malah senyam-senyum”. Itulah dilemma yang saya pernah alami. Namun, perlulah kita ketahui bahwa keluarga pendeta bukanlah keluarga yang sempurna, karena di dalamnya terdapat unsur manusiawi. Menurut hemat saya, kesedihan kami merupakan suatu hal yang wajar. Banyak hal baru yang harus kami lakukan dan yang harus kami lanjutkan tanpa seorang bapak. Terlebih lagi, bapak adalah seorang pendeta, tentu saja kami sekeluarga harus berjuang untuk memberanikan diri kembali kepada keadaan semula. Namun, kami menyadari keterbatasan kami. Hal-hal traumatis masih menyelimuti kami. Tentunya, kami membutuhkan proses untuk dapat kembali pada keadaan semula. Mana mungkin seorang pianis akan menjadi handal jika ia tidak mengalami latihan-latihan. Latihan tersebut merupakan sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani. Sama seperti kami sekarang ini. Meskipun harus ada tetes air mata, kepedihan maupun kegagalan.
Sejatinya, kita perlu melihat pentingnya sebuah persepsi. Persepsi yang positif akan memunculkan sebuah solidaritas dan empati yang mendalam. Seperti kata Pdt. Kadarmanto yang menyatakan bahwa “Persepsi bukanlah konklusi, namun sebuah dugaan awal kita terhadap apa yang kita lihat”.
Sebagai wakil dari keluarga almarhum Pdt. Christian Nuryadi, S.Th., saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap majelis, jemaat dan panitia atas segala perhatian, cinta kasih dan dukungan yang telah diberikan kepada bapak kami semasa hidup maupun kepada kami. Biarlah kasih itu senantiasa ada di dalam kita sekalian. Dan biarlah Tuhan Sang Kasih itu senantiasa melimpahkan kasihNya bagi kita sekalian.
Sebagai manusia yang terbatas pun, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas tutur kata, tingkah laku maupun pikiran kami yang kurang berkenan. Kami menyadari bahwa kami pun penuh kekurangan, sehingga kami tidak dapat membalas kebaikkan bapak, ibu, saudara-saudari sekalian dengan sempurna.
Akhirnya, saya secara pribadi mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini dan mohon maaf atas kesempatan yang begitu panjang saya gunakan. Jika saya lanjutkan, maka sambutan ini akan menjadi sebuah kotbah yang sangat panjang dan menjenuhkan. Untuk itu, saya akhiri saja dengan sebuah pesan dari bapak saya yang kerap kali disampaikan untuk saya, yaitu Tetaplah Semangat!
Kiranya Bapa di Sorga memberkati kita senantiasa.