Rabu, 17 Desember 2008

Sambutan Emiritasi Pendeta

SEBUAH SAMBUTAN

Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus,
Seorang pendeta senior GKJ pernah mengucapkan sebuah ungkapan tentang emiritasi pada suatu pertemuan di Salatiga awal bulan Juni yll. Beliau mengatakan bahwa “Pendeta itu tidak perlu pensiun atau emeritus. Pendeta ya akan tetap sebagai pendeta. Jadi, emeritus atau pensiun tidak berlaku bagi pendeta.”
Awalnya, saya tidak sependapat dengan beliau karena jika dilihat dari segi struktural gerejawi, maka perlulah pendeta mengalami masa emiritasi. Keterbatasan usia, raga dan daya pikir dapat mempengaruhi proses pelayanan pendeta itu. Di sisi lain, memang benar, secara fungsional teologis, pendeta tetaplah selalu sebagai pendeta. Entah masih hidup maupun sudah tiada.
Namun, ternyata ungkapan pendeta senior GKJ tersebut mau tidak mau harus saya setujui. Sebab, ternyata, ketiadaan emiritasi tersebut telah terjadi dalam diri bapak saya sendiri. Ya, bapak kami yang telah menghadap kepada Bapa di sorga tepatnya 3 bulan yll. Bapak kami kembali pulang masih dengan sebutan sebagai pendeta, belum pendeta emeritus. Bahkan, calon kakak ipar saya mempertegas sambil menghibur saya, “Meskipun bapak telah dipanggil tapi bapak tetap sebagai pendeta kok. Bahkan, pendeta abadi. Nggak bakalan disebut pendeta emeritus.” Yah, harap saya, semoga demikian. Meskipun hari ini SK Emiritasi telah diberikan kepada kami, namun, bapak saya tidak mengalaminya. Betapa enaknya bapak saya terpanggil dalam keadaaan masih sebagai pendeta.
Secara pribadi, saya sebagai seorang anak pendeta cukup merasakan bagaimana perjuangan bapak saya ketika akan menjadi pendeta sampai bapak saya menjadi pendeta. Semasa bapak saya masih hidup, kami sangat sering berdialog. Ternyata, simbah saya (orang tua dari bapak), tidak menyetujui bapak saya menjadi seorang Kristen. Namun, karena begitu besar kasih Allah kepada bapak saya, akhirnya bapak saya menjadi seorang Kristen bahkan berani mengabdikan hidupnya kepada Tuhan sebagai seorang pendeta. Saya benar-benar sangat bisa merasakan ketika bapak saya menimba ilmu di STT Duta Wacana yang sekarang UKDW. Betapa membutuhkan kerja dan semangat yang begitu besar. Apalagi dulunya bapak saya mengambil D3 baru kemudian S1 teologi, sehingga gelar yang bapak peroleh adalah Sarjana Theologia (S.Th). Hanya untuk mencapai gelar tersebut, bapak saya berjuang selama 4 tahun lamanya. Dari pengalaman itulah, maka secara pribadi, saya dapat mengakui bahwa bapak saya tetaplah sebagai pendeta dengan sebutan yang sering kita dengar semasa bapak saya masih hidup, yaitu Pendeta Christian Nuryadi, S.Th.
Sebagai bagian dari sebuah keluarga pendeta, secara pribadi saya merasakan adanya suatu beban historis. Bagaimana tidak? Ibaratnya, keluarga pendeta itu seperti “ikan dalam akuarium”. Begitu banyak orang yang bisa melihat berapa jumlah ikan yang ada di dalamnya, apa yang dilakukan ikan itu bahkan ketika ikan itu mati, semua orang mengetahuinya. Ya, begitu pula dengan keluarga pendeta. Bagaimana pun, jemaat pasti akan melihat bagaimana to kondisi pendeta saya?. Itulah sebenarnya esensi di balik kepedulian jemaat pada umumnya.
Jujur, kami sekeluarga merasakan ketidaksiapan ketika Tuhan memanggil bapak kami. Peristiwa itu memang baru kami alami pertama kali dalam keluarga kami. Ketika kami harus kehilangan seorang suami, seorang bapak, seorang kepala rumah tangga dan seorang motivator bagi kami sekeluarga. Barangkali, jika Tuhan sebelumnya memberitahukan pada kami, pastinya kami akan mempersiapkan diri. Tetapi, peristiwa tersebut terjadi begitu cepat dan tiada terduga. Saya menjadi teringat ketika bapak saya kerap kali memimpin ibadah pemakaman, beliau selalu mengucapkan, “Punika boten dipun nyana-nyana. Amargi punika kersanipun Gusti piyambak. Gusti ingkang nitahaken, Gusti ingkang mberkahi lan Gusti piyambak ingkang mundhut”. Namun untungnya, bapak sudah terlebih dahulu mempersiapkan dirinya menghadap Tuhan. Hal itu nampak ketika saya dan mbak Endah mendampingi bapak di rumah sakit 3 hari sebelum bapak dipanggil Bapa di sorga.
Sebagai bagian dari keluarga pendeta, jujur saya merasa bingung harus berbuat apa ketika pemakaman dilaksanakan. Jika saya menangis, barangkali ada orang yang berasumsi, “Orang kok tidak kuat!”. Tetapi lucunya, ketika saya tidak menangis, orang justru menganggap saya aneh, “Bapaknya nggak ada kok malah senyam-senyum”. Itulah dilemma yang saya pernah alami. Namun, perlulah kita ketahui bahwa keluarga pendeta bukanlah keluarga yang sempurna, karena di dalamnya terdapat unsur manusiawi. Menurut hemat saya, kesedihan kami merupakan suatu hal yang wajar. Banyak hal baru yang harus kami lakukan dan yang harus kami lanjutkan tanpa seorang bapak. Terlebih lagi, bapak adalah seorang pendeta, tentu saja kami sekeluarga harus berjuang untuk memberanikan diri kembali kepada keadaan semula. Namun, kami menyadari keterbatasan kami. Hal-hal traumatis masih menyelimuti kami. Tentunya, kami membutuhkan proses untuk dapat kembali pada keadaan semula. Mana mungkin seorang pianis akan menjadi handal jika ia tidak mengalami latihan-latihan. Latihan tersebut merupakan sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani. Sama seperti kami sekarang ini. Meskipun harus ada tetes air mata, kepedihan maupun kegagalan.
Sejatinya, kita perlu melihat pentingnya sebuah persepsi. Persepsi yang positif akan memunculkan sebuah solidaritas dan empati yang mendalam. Seperti kata Pdt. Kadarmanto yang menyatakan bahwa “Persepsi bukanlah konklusi, namun sebuah dugaan awal kita terhadap apa yang kita lihat”.
Sebagai wakil dari keluarga almarhum Pdt. Christian Nuryadi, S.Th., saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap majelis, jemaat dan panitia atas segala perhatian, cinta kasih dan dukungan yang telah diberikan kepada bapak kami semasa hidup maupun kepada kami. Biarlah kasih itu senantiasa ada di dalam kita sekalian. Dan biarlah Tuhan Sang Kasih itu senantiasa melimpahkan kasihNya bagi kita sekalian.
Sebagai manusia yang terbatas pun, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas tutur kata, tingkah laku maupun pikiran kami yang kurang berkenan. Kami menyadari bahwa kami pun penuh kekurangan, sehingga kami tidak dapat membalas kebaikkan bapak, ibu, saudara-saudari sekalian dengan sempurna.
Akhirnya, saya secara pribadi mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini dan mohon maaf atas kesempatan yang begitu panjang saya gunakan. Jika saya lanjutkan, maka sambutan ini akan menjadi sebuah kotbah yang sangat panjang dan menjenuhkan. Untuk itu, saya akhiri saja dengan sebuah pesan dari bapak saya yang kerap kali disampaikan untuk saya, yaitu Tetaplah Semangat!
Kiranya Bapa di Sorga memberkati kita senantiasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar