Rabu, 17 Desember 2008

Listen and Do It !

Sebuah Refleksi Iman

Ada seorang pemain biola bernama Verius. Sejak kecil ia dapat memainkan biola. Keahliannya didapatkan dari ayahnya yang juga seorang pemain biola. Setelah ia dewasa, ia selalu memainkan biolanya di berbagai tempat. Bahkan ia pernah mengadakan beberapa kali konser untuk menunjukkan keahliannya. Hingga ia pun dikagumi oleh banyak orang. Verius kecil itu sudah menjadi besar dan terkenal.

Suatu ketika, setelah ia selesai melakukan konser kecilnya, ia pulang dengan mobilnya seperti yang biasa ia lakukan sehari-hari. Tiba-tiba, di tengah jalan dan suasana malam yang dialiri keramaian hujan kota, tak terasa Verius mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Hingga di depannya ada tikungan, namun dia tidak dapat mengendalikan mobilnya yang melaju dengan begitu cepatnya. Tidak ada waktu panjang lagi, pohon besar yang ada di jalan bertikung itu ditabraknya. Dia pun menjadi tak sadarkan diri. Ya, kecelakaan telah menimpanya.

Ketika ia membuka mata, ia hanya merasakan kegelapan yang menyelimuti keadaannya. Ada banyak suara yang memanggil namanya, “Verius… Verius… Verius…”, namun ia tidak dapat melihat rupa suara yang berseru itu. Dengan hati yang haru, Verius menyadari bahwa ia telah menjadi buta.

Peristiwa itu membuat dia putus asa dan tak ada lagi harapan untuk hidup. Ia hanya berseru dalam hatinya,”Bagaimana aku bisa bermain biola lagi bila aku tak dapat melihat? Pikiranku tak dapat menampung banyak hal!”. Bukan hanya dia saja yang kecewa, namun juga para pengagumnya. Awalnya mereka merasakan apa yang Verius rasakan. Sakit, kecewa, sedih. Tetapi, selanjutnya mereka pergi bagaikan angin yang tak tahu ke mana. Tiada lagi perhatian dan penghiburan bagi Verius.

Satu tahun lamanya Verius hanya terdiam dalam lamunannya. Ia merasa tak berguna lagi. Semangat hidupnya telah lenyap diusap musibah itu. Bahkan ia tak mau lagi mengenal biolanya.

Suatu hari, ia mendapat kiriman CD dari seorang teman pemain biola. Ia membuka CD itu dan ia dengarkan. Ternyata isinya adalah lantunan lagu-lagu yang diiringi dengan biola. Ia merasa mengenal lagu-lagu itu. Bahkan hampir semua lagu itu pernah ia mainkan dalam konsernya. Perasaannya begitu senang. Hatinya tersenyum. Ia merasa bersemangat kembali untuk menyentuh biolanya. Ia mencoba untuk mendengarkan permainan biola dalam CD itu. Pelan-pelan ia memainkannya dengan biolanya. Awalnya, sangat sulit namun lama-kelamaan ia dapat mengikutinya. Ia pun berhasil memainkannya sesuai dengan CD itu. Lalu, tetangga terdekatnya mendengar alunan biola Verius. Banyak orang yang penasaran ingin melihat siapa orang yang memainkan biola Verius yang telah lama terdiam itu? Dan mereka pun terkejut ternyata Verius sendiri yang memainkannya. Mereka sangat kagum bahkan kekagumannya melebihi dahulu. Bagaimana seorang buta bisa memainkan biola dengan begitu indahnya?

Setelah Verius selesai memainkan sebuah lagu, orang-orang yang sedang melihatnya langsung spontan bertepuk tangan sebagai tanda kekaguman mereka untuk Verius. Verius pun terkejut dan merasa sangat bahagia ketika mendengar tepukan tangan mereka. Semangat Verius untuk bermain biola muncul kembali. Modalnya mudah. Ia hanya belajar untuk mendengarkan bukan hanya dengan telinganya namun juga dengan hatinya. Lalu, ia melakukan apa yang ia dengar. Akhirnya, Verius kembali dikagumi banyak orang dan ia mendapatkan kebahagiaannya kembali.
Dua hal yang menarik adalah mandengar dan melakukan. Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, tentunya tak ada jalan lain kecuali mendengar. Mendengar dengan telinga kita dan menghayatinya dengan hati kita. Kemudian, kita melakukan apa yang telah kita dengar dan hayati itu.

Kejadian 7:1-9 mengungkapkan kisah Nuh sebelum ia mengalami musibah air bah. Terlebih dahulu Tuhan Allah menyuruh Nuh untuk “bersiap diri” dengan cara memerintahkan Nuh untuk masuk ke dalam bahtera yang telah ia buat (pasal 6:14) bersama dengan seisi rumahnya dan banyak pasang binatang yang diperintahkan Tuhan (pasal 7:1-4). Nuh mendengarkan apa yang diperintahkan Allah. Selanjutnya, Nuh melakukan perintah itu. Akhirnya ia selamat dari musibah air bah (Kej. 8:18-19).

Kisah Nuh tersebut menyatakan kebenaran iman yang dia miliki. Karena iman, Nuh dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan, dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya (Ibrani 11:7). Tuhan Allah telah menyelamatkannya melalui iman yang dia miliki.

Rasul Paulusmengungkapkan kesaksian iman dalam Roma 10:17, ”Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Tuhan Allah telah menyatakan firmanNya kepada Nuh dan Nuh mendengarkannya. Dalam perjanjian baru, Yakobus berseru,”Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Oleh karena itu, Nuh melakukannya, sehingga ia mendapatkan keselamatan yang kekal dari Allah.

Dari sini terlihat hasil akhir dari dua hal itu (mendengarkan dan melakukan) adalah keselamatan, kebahagiaan dan bahkan kekekalan. Dapat dikatakan bahwa hal mendengar dan melakukan merupakan bukti dari iman kepada Allah.

Dalam Matius 7:24-27, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang mendengar perkataanNya dan melakukannya sama dengan orang yang bijaksana, sedangkan yang tidak adalah orang bodoh. Ibaratnya, orang bijaksana mendirikan rumah di atas batu. Ketika banjir dan angin melanda, rumah itu tidak rubuh. Sedangkan orang bodoh mendirikan rumah di atas pasir. Ketika banjir dan angin melanda, rumahnya rubuh dan rusak.

Ajaran Tuhan Yesus menunjukkan pula bahwa buah dari mendengarkan dan melakukan firmanNya adalah keselamatan. Terbukti dengan tetap berdiri teguh bangunan rumah itu. Jika kita berpikir, memang tidak cukup mudah mendirikan rumah di atas batu. Kita membutuhkan banyak sarana dan prasarana. Terlebih lagi perjuangan dan pengorbanan.

Begitu pula dengan iman. Tak mudah menyatakan iman itu. Kita membutuhkan perjuangan dan pengorbanan melalui kepercayaan dan kesetiaan kita kepada Allah. Kita perlu mendengar dan melakukan apa yang Allah kehendaki bagi kehidupan kita. Mendengar itu cukup sulit. Apalagi melakukan? Memang kita tidak akan pernah dapat menghadapinya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu, izinkan Tuhan Allah sendiri untuk memampukan kita. Biarkanlah kita menjalaninya bersama dengan Tuhan Allah. Hingga akhirnya nanti, kita beroleh buah dari pekerjaan kita yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang kekal.

Bagaimana dengan kita saat ini? Pilihan ada di tangan kita masing-masing. Maukah kita menjadi orang bijaksana, ataukah orang bodoh? Bersediakah kita menyatakan iman dengan cara mendengar dan melakukan setiap firman Allah? Jika ya, sekali lagi, Listen and Do It !

Jakarta, 12 Juni 2008
_NugSiRu_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar