Kasih... apa makna yang tepat untuk diungkapkan? Setiap orang pasti berbeda-beda dalam mendefinisikan kasih. Barangkali, mereka mendefinisikan kasih sesuai dengan apa yang sedang mereka rasakan atau apa yang pernah mereka alami. Ini berarti, ada orang yang mendefinisikan kasih ketika dia sedang jatuh cinta sehingga makna kasih terkesan positif. Tentu hal-hal yang baik-baik saja yang dia nyatakan. Ada juga orang yang mendefinisikan kasih ketika dia sedang putus hubungan dengan pasangannya sehingga makna kasih bersifat negatif dan terkesan sangat buruk.
Di sisi lain, barangkali ada orang yang tidak merasakan apapun, namun ia ingin mendefinisikan kasih. Atau bahkan hanya sekedar terpaksa mendefinisikan kasih, sehingga terkesan biasanya saja. Dalam arti, tidak ada sesuatu yang baru dari makna kasih itu.
Dulu, ketika saya masih kecil, kira-kira usia 8 tahun, kasih itu seperti ayah yang selalu menggendong saya dan ibu yang selalu memberi saya susu. Dalam arti, kasih itu memberi dan menerima. Meskipun pada saat itu saya sekedar menerima kasih.
Ketika saya berusia 10 tahun, kasih itu seperti sebuah piano yang begitu harmoni ketika dimainkan.. Dapat dikatakan bahwa kasih itu cinta yang indah. Saat itulah pertama kalinya saya merasakan getaran dalam hati saya sehingga saya merasa dunia telah membuka mata hati saya untuk sebuah harmoni cinta.
Ketika saya berusia 13 tahun, kasih adalah ketika saya merasa diterima dan menerima hal baru dalam hidup saya. Saat itulah pertama kalinya saya mengakui keberadaan saya.
Ketika saya berusia 15 tahun, kasih adalah ketika saya kehilangan (dalam arti berpisah) dengan orang-orang yang saya kasihi. Ini berarti kasih identik dengan mendidik saya belajar untuk mandiri.
Ketika saya berusia 17 tahun, kasih adalah ketika saya disebut sebagai orang yang dewasa. Saat itulah pertama kalinya saya mengikrarkan iman percayaku. Saya menganggap diri sebagai orang yang paling berbahagia. Wujud kasih yang saya terima adalah berupa kado dan semangat dari banyak orang yang mengasihiku.
Setelah itu saya selalu mencoba untuk memaknai kasih dalam hidup saya.
Ketika saya berusia 18 tahun, kasih adalah ketika saya diselamatkan dari kesalahanku. Saat itulah saya menyadari bahwa langkah yang saya tempuh telah menyimpang. Saya pun memberanikan diri untuk melanjutkan langkah meski saya belum tahu arah yang akan dituju. Ini berarti kasih itu menyelamatkan dan memantapkan.
Ketika saya berusia 19 tahun, kasih adalah ketika bunga yang tengah bermekaran indah seketika menjadi kuncup kembali. Saya kehilangan orang yang sangat saya cintai untuk kedua kalinya.
Saat ini, ketika saya berusia 20 tahun, awalnya saya bingung mendefinisikan kasih. Barangkali karena apa yang saya rasakan dan alami sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Saya merasa bahwa saya telah menemukan hal yang sangat baru dan saya menikmatinya. Namun, di balik itu semua, tidak sedikit orang yang merasakan apa yang saya rasakan. Bahkan, orang-orang terdekatku tidak turut menikmatinya. Meski demikian, akhirnya, saya dapat mendefinisikan kasih. Bagi saya, kasih adalah ketika saya tersenyum dalam tangisan. Ketika saya tertawa dalam kepedihan. Ketika saya berani dalam ketakutan. Ketika saya terhibur dalam kesepian. Ketika saya tegar dalam kesedihan. Ketika saya bahagia dalam ketiadaan. Ketika saya tenang dalam pelukan. Ketika saya lega dalam senyuman. Ketika saya nyaman dalam kepedulian. Ketika saya aman dalam kesendirian. Ketika saya terampuni dalam kesalahan.
Tentu saja, ini bukan akhir dari makna kasih. Masih ada banyak makna kasih yang belum saya ungkapkan. Yang pasti, kasih akan selalu mengajak saya untuk mendefinisikannya seperti apa yang sedang saya rasakan dan jalani. Inilah rangkaian dinamika makna kasihku yang belum selesai.
Jakarta, 18 Juni 2008
Nugraheni Siwi Rumanti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar