Terpanggilkah untuk menjadi PelayanNya?
Sebagian besar orang Kristen menganggap pendeta sebagai pemimpin gereja, pemimpin rohani dan pembangun spiritualitas umat Kristen. Tentunya bukan guru saja yang patut digugu lan ditiru tetapi pendeta pun patut mendapat predikat itu. Pendeta sebagai pemimpin gereja harus mampu memimpin gereja dengan bijaksana bukan mendominasi maupun bersikap otoriter. Sebagai pemimpin rohani sekaligus pembangun spiritualitas umat Kristen, perlu meningkatkan bobot dan kualitas iman umat. Bagaimana jika pendeta sendiri tidak berkualitas imannya? Tentu saja pendeta perlu meningkatkan keimanannya untuk dapat mengangkat kualitas keimanan orang lain.
Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan merasa diselamatkan dari kehidupannya. Mereka menganggap diri merasa terpanggil untuk berubah. Terpanggil untuk melayani Tuhan. Ada harapan untuk berbalik pada Tuhan dan membalas kebaikanNya selagi masih hidup. Bahkan, ada yang memakai seluruh waktunya untuk berdoa dan melayani Tuhan. Hal-hal duniawi selalu dihindarinya.
Muncul ungkapan, ”Hebat benar orang itu!” Mampukah dia bertahan hingga akhir? Padahal, tidak dipungkiri bahwa kemampuan manusia sangat terbatas. Manusia tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri pun pernah marah, menangis, dan sedih. Namun, satu hal yang pasti bahwa iman kita kepada Allah yang memampukan kita untuk tetap bertahan hingga ke akhir.
Sebagai seorang Kristen, tentu saja pernah merasakan dan menikmati berkat dan penyertaanNya. Bahkan tidak akan pernah berakhir dalam kehidupan kita. Lalu, terpanggilkah kita untuk melayani Dia lebih lagi?
Sebagai seorang mahasiswa teologi maupun orang-orang lain yang bukan teologi, terpanggilkah kita untuk menjadi saksi bagi Dia? Menjadi seorang pendeta, penginjil, diaken? Meski dunia banyak menolak kita. Orang-orang terdekat kita pun meragukan kita. Bahkan menganggap diri kurang beriman. Apalagi layak untuk melayani Tuhan...
Dalam film ”Raise Your Voice”, seorang Fletcher yang diperankan oleh Hillary Duff, mampu berjuang untuk dapat meraih cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Meski banyak orang termasuk keluarganya sendiri meragukan kemampuan dan tidak mendukungnya. Banyak peristiwa yang dilaluinya. Ketakutan, kekhawatiran bahkan kehilangan kakak yang sangat dicintainya padahal hanya kakaknya yang mendukung dia. Namun, dia tetap berjuang dan berkarya mengembangkan dirinya. Harapannya pun tercapai.
Film itu mempunyai pesan moral yang baik dan mustinya dapat menumbuhkan semangat pelayanan dalam kehidupan kita. Kita perlu melihat gereja-gereja masa kini yang sangat membutuhkan pelayanan kita. Bukan hanya itu melainkan pelayanan kita untuk menjadi pemimpin rohani mereka. Banyak gereja membutuhkan uluran tangan kita untuk menjadi sarana berkat dan pertolongan dari Tuhan. Banyak gereja kehilangan semangat pelayanan bahkan jati dirinya karena tidak mempunyai pendeta. Banyak umat yang tersesat. Bukan hanya GKJ tetapi juga GKI, GPIB, GBKP, GKPB, GKSBS, HKBP, GKS, dll. Masihkah kita berlari untuk menghindari panggilanNya?
Lebih tepatnya, terpanggilkah kita untuk melayaniNya dimana pun kita berada? Lebih jelasnya, terpanggilkah kita untuk menjadi pendeta? Menjawab dengan mulut memang mudah apalagi jika hanya ingin menyenangkan banyak orang. Namun menjawab dengan hati, sulit. Hati membutuhkan ketulusan dan kejujuran untuk menyatakannya.
Rasul Paulus pernah menulisnya dalam 2 Timotius 4:2, ”Beritakan firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”.
Jadi, bagaimanakah dengan kita? Jawablah dengan hati. Laksanakan dengan jiwa. Be the best for God!
Jakarta, 10 Juni 2008
Persembahan khusus untuk
HUT kekasihku tercinta,
Andreas Kristianto ke-20
_NugSiRu_
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar