Rabu, 17 Desember 2008

Diakhiri Namun Tak Berakhir

Dan tak seindah cinta yang lalu
Yang jalan dan jalin tanpa restu
Ku akhiri namun tak berakhir
Ku hindari hati tak ingin berpisah


Inilah sebuah lagu yang mengisahkan tentang seseorang ketika mengalami cinta tanpa merasakan cinta saat itu. Hingga dia teringat dan seakan membandingkan perasaan cinta yang pernah dialaminya. Satu hal yang menarik adalah kalimat selanjutnya, ”Ku akhiri namun tak berakhir... Kuhindari hati tak ingin berpisah”. Dapat dikatakan bahwa lagu tersebut mengungkapkan perasaan seseorang dengan orang yang sangat dia cintai namun tidak memperoleh restu. Lalu, mereka mengakhiri ”hubungan cinta” mereka tetapi tidak mengakhiri ”perasaan cinta” mereka.

Tentu saja terkesan begitu ironi karena kata ”akhir” mempunyai dua makna (ambigu). Namun, jika kita melihat maksud lagu tersebut dari sisi lain dapat dikatakan bahwa yang berakhir hanyalah hubungan bukan perasaan.

Bagi orang Kristen, peristiwa kenaikkan Yesus ke sorga menunjukkan bahwa Yesus telah meninggalkan dunia ini termasuk meninggalkan para muridNya. Tetapi bukan berarti Yesus hanya tinggal diam dan tidak akan pernah menyertai murid-muridNya lagi. Yesus tetap ada dan selalu ada. Hingga akhirnya, Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk senantiasa membimbing para muridNya. Dari sini terlihat bahwa cinta Yesus tidak meninggalkan mereka meskipun Yesus tidak bersama dengan mereka. Yesus nampaknya telah mengakhiri hubungan dengan para muridNya yang dulunya selalu dekat, namun tidak mengakhiri perasaanNya yang selalu ada bersama dengan mereka.

Dalam Kristen pula dikenal adanya istilah emeritus bagi pendeta yang dianggap telah mencapai usia tua. Banyak orang menganggap bahwa emeritus identik dengan pensiun. Ini berarti bahwa pendeta emeritus sudah tidak dapat menjadi pendeta lagi. Identik pula berakhir menjadi pendeta.

Sebenarnya, tidak ada yang berakhir di dunia ini. Ibaratnya seperti berlari pada stadion yang luas dan berdiameter lebar. Pasti kita tidak akan mampu mengakhiri langkah kita untuk mengitari stadion itu, meskipun kita menganggap telah mengakhirinya.

Sama halnya dengan kependetaan. Sebuah perjalanan yang tidak akan pernah berakhir meskipun ada saatnya kependetaan itu harus berjumpa dengan emeritasi. Emeritasi berarti suatu masa emeritus. Emeritus berasal dari kata exmeritus (bahasa Latin) yang berarti pergi ke luar dengan terhormat. Suatu penghargaan yang diberikan karena masa kerjanya telah berakhir dengan baik namun sebenarnya masih mampu untuk tetap bekerja.

Secara struktural, pendeta dapat dikatakan berakhir dari kependetaannya. Namun, secara fungsional, pendeta emeritus tetap sebagai pendeta yang masih dapat melayani. Sehingga emeritasi bukanlah suatu masa yang terakhir bagi pendeta emeritus. Justru pendeta tersebut telah mendapatkan suatu penghargaan secara terhormat. Tentu saja pendeta perlu mengalami masa emeritasi. Bahkan pendeta sangat perlu memperoleh penghargaan dengan terhormat atas segala pelayanannya selama menjadi pendeta secara struktural.

Sangat perlu bagi kita untuk memahami makna emeritus pendeta. Pandangan bahwa pendeta tidak perlu mengalami emeritus bukanlah suatu pandangan yang tepat. Ada asumsi bahwa pendeta hanya ingin mempertahankan kekuasaan sehingga terkesan mendominasi jemaat tertentu.

Untuk itu, perlu bagi kita mengubah pandangan kita terhadap istilah emeritus. Bukan pensiun. Bukan suatu yang salah. Bukan pula ketidakhormatan. Seperti ungkapan lagu di atas, mengalami cinta namun tak merasakan cinta. Mengalami emiritus namun tak merasakan emiritus. Diakhiri namun tak berakhir.

Jakarta, 10 Juni 2008
_NugSiRu_

1 komentar:

  1. Akhirnya singgah juga ke blogmu. Suka nulis juga ya? Dikembangin dunk. Ok, dah standartlaha da artikel n pic. Sukses ya!

    tabik,
    esl

    BalasHapus